Menata kembali, niat kita dalam berdakwah
Niat adalah hal fundamental bagi setiap Muslim ketika mengerjakan sesuatu. Segala sesuatunya sangat bergantung pada niatnya.Niat inilah yang akan membawa konsekuensi pada diterima atau tidaknya suatu ibadah yang kita lakukan kepada Allah SWT Rasulullah SAW bersabda: ”Sesungguhnya perbuatan itu tergantung pada niatnya, seseorang itu akan memperoleh apa yang telah diniatkannya. Barang siapa hijrahnya itu karena Allah dan rasulnya, maka ia akan memperoleh pahala dan barang siapa hijrahnya itu karena harta atau wanita, maka ia akan memperoleh apa yang telah diniatkanya itu.”
Asal muasal hadits ini adalah ketika Rasulullah SAW berdakwah di negeri Mekah merasa sulit karena selalu mendapatkan perlawanan hebat dari kaum Quraisy.Beliau akhirnya mendapat perintah untuk hijrah ke Yatsrib (Madinah). Beliau pun memerintahkan para sahabat untuk berhijrah. Tapi para sahabat ternyata punya motivasi yang berbeda-beda dalam melakukan hijrah. Mulai dari sahabat yang ikhlas mencari keridhoan Allah SWT hingga alasan wanita, harta, dan benda. Karena itu Rasulullah menginstruksikan kepada para sahabat untuk menata niat mereka melalui hadits itu.
Memang niat mudah diucapkan namun sukar untuk dipraktikkan. Saat kita punya niat baik, maka saat itu juga iblis telah bersiap siaga untuk menjerumuskan dan merusaknya. Padahal awalnya niat itu murni karena Allah. Itulah sebabnya, Ibnu Qoyim mengatakan bahwa ikhlas itu membutuhkan keikhlasan (al-ikhlashu yahtaju ilal ikhlash).
Niat itu bersarang dalam hati. Agar ia tetap terjaga utuh, seseorang harus menata niatnya sebelum melakukan amal, ketika melakukannya, dan sesudah selesai. Dan hal itu bisa dimiliki dengan melalui berbagai latihan (riyadhah) mental yang intensif, yakni berusaha menata niat, karena ia tidak akan serta merta bersih dengan sendirinya.
Yang perlu diwaspadai, iblis menggoda manusia sesuai dengan kualitas ketaatannya kepada Allah. Semakin berkualitas seseorang kepada Allah, maka akan digoda oleh iblis kelas berat. Di sinilah pentingnya kita selalu memohon perlindungan kepada Allah SWT untuk menjaga niat. Apalagi manusia memiliki nafsu yang cenderung mengarahkan kepada hal-hal yang buruk dan jahat. Bila ia tidak diarahkan sebagaimana mestinya, maka ia akan bekerja sama dengan iblis untuk merusak niat seseorang, baik itu lewat penyakit ujub, riya, dan sum’ah.
Kunci ibadah adalah ikhlas. Dan ikhlas itu ada di dalam hati orang yang melakukan amal tersebut. Maka sah atau tidaknya pahala amal itu, tergantung pada niat ikhlas atau tidak hati pelakunya. Jika dalam melakukan amal itu hatinya bertujuan untuk mendapat pujian dari manusia, maka hal itu berarti tidak ikhlas.
Akibatnya amal ibadah yang diusahakannya tidak menerima pahala dari Allah. Rasulullah SAW menceritakan pengalaman generasi sebelumnya dalam berdakwah. Mereka ada yang digergaji, tetapi mereka tetap sabar. Mereka rela mengorbankan kehidupannya demi tegaknya dakwah Islam, bukan untuk pamer. Ini semua dikisahkan Rasul SAW, untuk meneguhkan hati umat Islam agar tabah dan ikhlas dalam beramal. Keikhlasan mereka harus dilandasi dengan niat yang suci dan tawakal kepada Allah.
Apa yang membuat para sahabat bisa tangguh di jalur dakwah Islam? Husnu tsiqah dan bersandar terus kepada Allahlah yang memberikan ketenangan kepada mereka semua untuk terus maju melangkah. Seorang tabi’in berkata, “Ayahku bercerita kepadaku, ‘Aku melihat Romawi menjatuhkan Persia, kemudian aku melihat pula Persia menjatuhkan Romawi.
Dan, akhirnya aku melihat Islam meruntuhkan kedua-duanya hanya dalam waktu 15 tahun’.” Begitulah capaian dakwah yang diusung oleh dai-dai yang ikhlas, teguh dalam memegang perjanjiannya dengan Allah, dan beramal secara kontinu tiada henti. Itulah buah dari kekuatan iman. “Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu penyakit dan keletihan, kekhawatiran dan kesedihan, dan tidak juga gangguan dan kesusahan bahkan duri yang melukainya, melainkan Allah akan menghapus dosa-dosanya.” (HR Bukhari).
Penghapusan dosa itu lebih baik daripada sekadar mendapat jabatan dunia yang sifatnya sementara. Khairun min ad- dunya wa maa fiiha (lebih baik dari dunia dan seisinya). Semoga kita semua, senantiasa mampu menjaga niat dalam menegakkan agama Allah. Kita benar-benar diperintahkan oleh Allah untuk memasang niat dengan ikhlas dalam setiap ibadah kita. Jangan dicampuri niat itu dengan hal yang lain, yang nantinya akan merusak pahala amal ibadah tersebut. Allah berfirman: ”Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus.” (Q.S Al- Bayyinah: 5)
wallahu’alam…semoga setiap aktivitas selalu kita niatkan hanya untuk Allah semata, sehingga kita akan selalu All out dalam beraktivitas. CAIYO, GANBATTE.
AYO MULIA JANGAN PERNAH MENGELUH, YA!!
notes :
koran.republika.co.id


Dyah berkata,
September 23, 2010 pada 12:32 pm
Mas moel jelek..
ini link blog ku, hehe..
moel_baik berkata,
September 23, 2010 pada 3:36 pm
he…. enak aja!!!
)
tapi tak apalah….yang penting punya pulsa
Dyah berkata,
September 26, 2010 pada 10:05 pm
:p
(
apa2, dihubungin ma pulsa,
gak adil..
pulsa ta termasuk hitungan, :p
tiyo berkata,
April 21, 2011 pada 7:30 am
bismillah…kita lanjutkan