suara hati seorang jundi…
OKE, BESOK KITA SYURO’NYA JAM 10 DISINI….
ya sudahlah, begitu kata bondan & fade 2black… kalian datang telat seperti tanpa dosa sekalipun. padahal aku disini menunggu hampir 1 jam lebih. dongkol iya, khusnudzon juga iya, campur jadi satu. aku pikir, begitukah seorang muslim???
aku belajar banyak hal dari rekan-rekan kerjaku dikantor, diantaranya: kalau kamu tidak suka akan suatu hal jangan cuma dipendam dalam hati, tapi juga harus di ekspresikan. karena itu manusiawi. temanku memberikan analogi seperti ini, “aku gak suka sama spion motorku e mas,dia kemudian bilang : ya sudah di ganti saja, atau dibuang sekalian…..???ganti dengan yang kamu suka”. dari hal tersebut membuatku semakin memahami bahwa ketidaksenangan itu lebih baik di ekspresikan atau dengan kata lain aktif, bukan pasif.
aku jadi teringat sebuah hadits rosuluLLoh :”Man ro’a minkum munkaron.. jika kau melihat kemungkaran.. fal yughoyyiru biyadihi.. maka ubahlah dengan tanganmu.. fa illam yastati’.. jika kamu tidak sanggup.. dst.. sampai fa bi qolbihi.. maka (ubahlah) dengan hatimu.. fa huwa adh’aful iimaan.. inilah iman yang paling rendah.(HR. Muslim)
mungkin aku yang kurang pas memposisikan hal ini, tetapi cobalah kita lihat definisi dari amar makruf&munkar.
Dalam hukum agama, seluruh kewajiban dan sunah disebut dengan makruf, dan seluruh yang haram dan makruh disebut dengan munkar. Karenanya, mengajak masyarakat untuk melaksanakan kewajiban dan sunah adalah amar makruf, dan mencegah mereka dari pekerjaan haram dan makruh adalah nahi munkar.
Amar makruf dan nahi munkar adalah wajib kifayah, yakni kewajiban semua masyarakat yang apabila salah satu dari mereka telah melakukannya secara baik dan cukup, maka kewajiban ini gugur dari yang lain. Akan tetapi, jika semua orang meninggalkan dan tidak melakukan amar makruf dan nahi munkar, sedangkan syarat-syaratnya telah terpenuhi,
maka mereka semua dihukumi telah mening-galkan kewajiban.[1]
saya merespon kedzaliman yang telah menempa saya dengan menelepon mas’ul, dan teman-teman yang lain. ketika semua berkata “sebentar lagi nyampe akh, ni lagi ngurus sepeda saya, ni lagi diperempatan” saya masih bisa tahan, tapi setelah waktu berlalu sekian lama, saya sudah tidak tahan lagi….
saya berpendapat bahwa dengan kita berusaha untuk menepati janji atau memenuhi undangan yang telah kita sepakati kita sudah menjadi muslim yang sesungguhnya. karena dia telah paham akan hak dan kewajibannya. dan sebaliknya dia menjadi muslim yang bodoh, karena dia telah melakukan kemungkaran, mendzalimi orang lain. pengecualian apabila sudah ada informasi sebelumnya bahwa jadwal syuro’ dirubah dan lain sebagainya. sehingga JELAS!!.
waLLohu’alam… mungkin saya salah!!!
Daftar pustaka :
1. 1. Ibid, Jil. 1, hal. 465, 472, masalah pertama.


nana berkata,
Januari 26, 2011 pada 8:10 pm
hahaa…like this ^^