Aku sebenarnya ngga tega menuliskan hal ini, ya…, aku akan menulis sisi-sisi kemanusiaan yang juga berlaku di kalangan aktivis (wa bil khusus Aktivis Dakwah Kampus). Aku tergugah menuliskan hal ini setelah dalam catatan dakwahku menumpuk sejumlah kasus yang cukup membuat hati pilu. Bagaimana tidak,selama ini aku menganggap teman-temanku adalah orang yang ’sempurna’:baik akhlaknya, tekun ibadahnya, sholih dan sholihah sifatnya…dan sejumlah reputasi baik lainnya, tapi sekarang aku menemukan fakta, bahwa teman-temanku yang aktivis itu ternyata juga manusia.
Kalau hanya satu dua kasus mungkin bisa aku katakan kasuistik, tapi ternyata…bukan hanya dua kasus….BUANYAAK. Sehingga aku menganggap ini gejala atau fenomena. Bukan sekedar fenomena, tapi fenomena gunung es. Wah Gawat.
Tapi terus terang, aku menulis ini agak dilematis juga. Disatu sisi aku ingin memberi tahu teman-temanku yang masih “bersih”, bahwa ada banyak kasus yang terjadi pada teman-teman lain yang bisa kita jadikan pelajaran. Aku berharap teman-temanku–dan juga aku–tidak melakukan hal yang sama. Tapi disisi lain, aku tidak mau membuka aib saudaraku sendiri. Ya, karena informasi yang aku punya ini termasuk kategori TOP SECRET. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mengaksesnya–bahkan aku punya data primer yang aku dapatkan dari pelakunya. Tetapi secara umum dapat aku katakan bahwa hampir semua kasus memiliki modus operandi yang sama: cinta, syahwat dan disorientasi dakwah.
Ya, mungkin lebih baik aku nggak usah merinci secara detail kasusnya. Cukuplah hal ini kusampaikan pada ”pihak-pihak yang berwenang saja”. Aku juga punya sedikit keyakinan, mungkin banyak diantara yang lain juga memiliki informasi yang sama, jadi aku tak perlu lagi bercerita disini. Yang perlu diwaspadai adalah faktor-faktor penyebab apa yang bisa membuat kader bisa ”terjatuh” seperti itu, bukan pada kronologis kasusnya. Kalau aku renungkan dan berdasarkan diskusi dengan beberapa teman, ada beberapa hal yang menjadi faktor penyebab:
Pertama, Polutan hulu yang tak terselesaikan
Polutan Hulu??… istilah ini pertama aku dengar ketika diskusi dalam halaqohku masuk pada tema : pembahasan kader-kader bermasalah. Jauh sebelum seorang kader mengenal Tarbiyah, biasanya ia memiliki sifat atau kebiasaan buruk, seperti: sering pacaran, suka membangkang, malas, susah bekerjasama dan lain sebagainya. Seiring perjalanan Tarbiyah, seharusnya sifat-sifat tersebut bisa dihilangkan, meski sedikit demi sedikit. TETAPI, adakalanya sifat atau kebiasaan tersebut tidak bisa hilang, meski Tarbiyahnya sudah lama. Padahal seiring dengan lamanya Tarbiyah, ia harus siap memikul amanah dakwah yang lebih banyak. Akibatnya tidak ada keseimbangan antara kesiapan personal dan tuntutan dakwah di lapangan. Bisa dipastikan kader tersebut akan macet ditengah jalan ketika harus menyelesaikan pekerjaannya. Inilah akibat polutan hulu yang tak terselesaikan. Sebagai contoh ada seorang kader akhwat potensial, usia Tarbiyahnya sekitar 5 tahun-an. Oleh MR nya ia dipromosikan untuk bisa menambah amanah yang cukup strategis dan menantang–disamping amanah sebelumnya yang sudah ia jalankan. Ketika promosi akhirnya disetujui, ternyata akhwat tersebut malah macet di tengah jalan. Amanahnya jadi berantakan. Selidik punya selidik, ternyata sejak awal ada catatan Tarbiyah yang belum ia selesaikan: ia susah beramal jama’i dan setahun terakhir ini ia sudah kehilangan orientasi dakwahnya.
Kedua, Kultur Dakwah yang tidak nyaman
Banyak diantara kader dakwah yang mengeluh, bahwa di lapangan ternyata materi-materi Tarbiyah jarang diaplikasikan. Ukhuwah terasa garing, interaksi personal semakin renggang–boro-boro bisa itsar. Amal Jama’i hanyalah teori. Pengurus sibuk sendiri-sendiri. Profesionalisme tinggalah mimpi. Untuk bisa syuro tepat waktu saja sangat sulit sekali. Maka muncullah ungkapan: ternyata organisasi dakwah tidak lebih baik dari organisasi lainnya. Untuk kader-kader baru, jelas hal ini bisa dijadikan alasan untuk tidak aktif lagi dalam barisan dakwah. Jangankan kader baru, ada kader yang sudah Tarbiyah bertahun-tahun akhirnya keluar gara-gara merasa tidak nyaman lagi dengan dakwah ini.
Ketiga, Kurangnya Keterbukaan
Anda seorang Murobbi? anda punya binaan?….boleh jadi anda tidak tahu apa yang terjadi pada binaan anda sekarang. Lantas tiba-tiba anda dapat laporan, bahwa binaan anda terkena kasus yang memalukan. Nah..sekarang anda baru sibuk menyelesaikan kasus binaan anda.
Dalam program halaqoh, biasanya ada program (baramij) tentang pembahasan permasalahan-permasalahan (Qodloya) pribadi atau organisasi. Kasus di atas seharusnya tidak terjadi kalau baramij ini berjalan. Namun ada kalanya, program ini sering dilewatkan–atau bahkan tidak ada sama sekali– seolah-olah tidak ada masalah apapun pada binaan. Para binaan kita berdalih bahwa ia merasa tidak nyaman mengungkapkan masalah pribadi pada forum halaqoh, hingga akhirnya ia memilih menyelesaikan sendiri permasalahannya. Atau justru ia malah curhat pada orang lain–yang menurut dia bisa dipercaya–yang bukan anggota halaqohnya. Ini sebenarnya sudah menyimpang dari konsep ideal halaqoh. Sejatinya halaqoh atau liqo adalah sebuah keluarga. Disinilah konsep ukhuwah dan itsar pertama kali diterapkan. Sesama anggota halaqoh sudah merasa sepenanggungan. Permasalah-permasalahan menyangkut personal, finansial, dakwah dan lainnya dibahas dan diselesaikan secara kekeluargaan.
Sebenarnya masalah keterbukaan adalah masalah kepercayaan. Seseorang akan berani terbuka kalau dia percaya, bahwa persoalan dia dapat diselesaikan. Kalau menyangkut sesuatu yang amniyah (Rahasia), ia percaya rahasianya akan tetap aman. Jadi, kalau kader atau binaan kita sudah tidak terbuka di forum halaqohnya, atau ia juga tidak terbuka pada anda selaku MR nya, berarti sudah terjadi krisis kepercayaan pada anda dan halaqoh anda. Dan inilah titik awal persoalan.
Mungkin masih banyak faktor-faktor yang bisa menyebabkan seorang kader bisa terlibat “skandal” (bukan skandal jepit lho…), namun menurutku tiga faktor ini saja sudah cukup untuk membuat seorang kader terjerembab pada persoalan krusial.
Penyikapan masalah inipun beragam, ada diantara teman (include me….) yang protes keras ke bagian kaderisasi (meskipun tidak secara langsung); kenapa hal ini dibiarkan terjadi? ada yang tidak sadar apa yang sebenarnya terjadi, ada yang cuek, ada yang mengejek, ada yang menganggap ini wajar sebagai konsekuensi fase dakwah sekarang, aku berhusnudzon bahwa mereka sebenarnya masih memiliki kepedulian terhadap dakwah ini. Aku juga memahami beratnya kerja-kerja kaderisasi–karena aku juga pernah masuk dalam dunia ini. Aku juga tahu, kadang masalahnya ada di internal kaderisasinya atau di orang-orang kaderisasinya. Bisa juga para MR nya yang bermasalah.
Aku sendiri menganggap ini sebagai tantangan dakwah sekarang. Dan tantangan ini kujawab dengan hal-hal konkrit di lapangan, misalnya komitmen dengan jadwal Liqo, berupaya menyelesaikan amanah dakwah atau berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan dakwah. Meski pun secara jujur kuakui aku juga, akhir-akhir ini aku nggak optimal dalam menuntaskan pekerjaan, selidik punya selidik….ternyata aku juga bermasalah…. J
Baiklah teman….sekarang kita berdo’a saja, semoga Allah senantiasa meringankan setiap masalah kita, melapangkan dada-dada kita, mempermudah urusan kita, dan mengampuni kesalahan-kesalahan kita….Amiin.
Dan selanjutnya, mari kita bekerja dan berkarya nyata bersama.
Bismillah dengan hati menuju tenang…..